












Kesadaran lingkungan semakin meresap ke setiap lapisan masyarakat termasuk komunitas pemeluk agama. Jaringan Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) mengundang perkumpulan Architecture Sans Frontieres Indonesia (ASF-ID) untuk mendesain sarana keagamaan dan sosial yang berkarakter setempat serta berwawasan lingkungan. GKJW Purwosari di dusun Jengger Kabupaten Malang dilimpahi oleh kekayaan alam berupa tanaman bambu, terutama jenis bambu petung (Dendrocalamus asper sp). Namun bambu tersebut belum dimanfaatkan secara maksimal, terutama untuk bangunan.
Serangkaian perencanan partisipatif dan pelatihan teknik konstruksi bambu dilakukan selama kurang lebih setahun sebagai persiapan konstruksi. Proses ini melibatkan warga, aktivis, arsitek muda dan relawan mahasiswa. Proses persiapan yang relatif panjang tersebut adalah suatu proses sosial yang penting untuk dilakukan agar proses membangun tidak semata-mata hanya soal fisik, namun juga sebagai proses belajar bersama.
Nama dusun Jengger berarti juga jambul ayam. Nama itu merujuk pada bentuk punggung bukit yang berundak-undak yang mengelilingi dusun. Pegiat ASF-ID menerjemahkan nama dusun kedalam desain bangunan; sebuah balai pertemuan bertengger di lereng bukit dengan bentuk atap yang unik seperti jengger ayam. Pertama kali rancangan ditampilkan, warga secara spontan mengidentifikasinya sebagai Rumah Opera Sydney. Namun uniknya, yang ini dibuat dari bambu. Atap dirancang dengan struktur utama batang bambu utuh yang mekar dari kolom beton yang kokoh menaungi interior seluas 180m2. Cukup sejuk dan nyaman untuk menaungi 300 pengunjung meski hanya dengan penghawaan alami.
Sekurangnya perlu waktu setahun untuk menggalang dana pembangunan sebesar 300 juta yang bersumber dari kas gereja dan bantuan jaringan. Mulai paruh akhir 2018, warga umat Kristen maupun Muslim bergotong-royong mengerjakan bangunan hingga enam bulan kemudian. Mengapresiasi modal sosial tersebut, saat peresmian pada 22 Januari lalu pengurus gereja menghibahkan bangunan ini kepada desa. Demikian kini balai pertemuan Jengger dapat digunakan untuk berbagai acara sosial maupun keagamaan; Ia menjadi “Rumah Bersama” untuk kehidupan beragama yang harmonis dan penuh toleransi.
2016 – 2018
Kabupaten Malang
Perencanaan Partisipatif, Pengorganisasian Warga, Pengembangan Komunitas, Konstruksi Bambu
Andrea Fitrianto: Inisiasi proyek, konsep desain, pelatihan pengawetan dan konstruksi bambu.
Robbani Amal Romis: Pelatihan pengawetan dan konstruksi bambu, pengorganisasian warga, fasilitator perencanaan partisipatif, pengembangan desain, produksi dokumen dan DED, pendampingan konstruksi.
Rizky Adhyaksa: Pengorganisasian warga, fasilitator perencanaan partisipatif.
Prima Adi Yudha: Konsep desain, fasilitator perencanaan partisipatif, fasilitator pelatihan konstruksi bambu.
Fiqih Tri Hidayatullah: Fasilitator perencanaan partisipatif
Dionisius Briananto: Co fasilitator
Yurista Dinata: Co fasilitator
Raja Gama Era: Co fasilitator
Marchyandi Raka: Co fasilitator
Rifky Pramadani: Co fasilitator
Muhammad Cesarian Ardi: Konsep desain
Dionsius Nico: Konsep desain
Samuel Bawole: Konsep desain
Isnawan Farid: Konsep desain
Bonita Ratih Permatasari: Konsep desain
Diminta oleh Majelis Agung Greja Kristen Jawi Wetan (MA GKJW), GKJW Purwosari
–
Prebysterian Church of Republic of Korea (PROK), Donasi Jemaat GKJW Purwosari, Donasi Warga Desa Srimulyo,