ASF-ID

[Diskusi] Arsitektur Partisipatoris: (di mana) Arsitektur, (siapa) Arsitek, dan (apa) Keindahan?

Arsitektur sering kali dipahami sebagai sebuah keluaran karya yang dihasilkan lewat kerja arsitek, sebagai seorang pencipta, pemilik kuasa, serta standar selera, yang mengendalikan seluruh rangkaian proses yang ada. Arsitektur dengan segala kelengkapan struktur, guna, serta keindahannya,menjadi otoritas dan otonomi sang arsitek. Arsitek adalah sang seniman. Dalam konteks ini, memahami karya arsitektur adalah dengan memahami arsiteknya, […]

UPDATE! Kampung, Sungai, dan Kota

UNS-Obrolan-27102016

UPDATE! Kampung, Sungai, dan Kota Kamis, 27 Oktober 2016 | 08:00-10:00 WIB | Public Space 3 FISIP Universitas Sebelas Maret, Solo – Budi Utomo, Sibat Kampung Sewu – Andrea Fitrianto & Sisca Pramudya, ASF-ID Berjalan menyusuri kota, menyapa warga, mengenali ruang-ruang warga, menyisir jalanan, menemukan rumah, pos ronda, jembatan dan sungai. Mendokumentasi keseharian warga menjadi […]

Kampung Kota, Kampung Kita, Kampung Bersama

Program Studi Teknik Arsitektur UPI dan ASF-ID mempersembahkan: Workshop Pendidikan Hijau “Kampung Kota, Kampung Kita, Kampung Bersama” Terbuka untuk mahasiswa Arsitektur S1. Untuk pendaftaran klik disini. Untuk TOR workshop klik disini. *Pendaftaran dibuka hingga 01 November 2016 “HADIAH” JUARA 1 Rp 5.000.000,- + Sertifikat JUARA 2 Rp 3.000.000,- + Sertifikat JUARA 3 Rp 1.500.000,- + Sertifikat NARAHUBUNG Alfansyah (0822-1813-4306) […]

Nothing is Fundamental: Arsitektur dan Kota

“Nothing is Fundamental: Tentang Arsitektur dan Kota” Menampilkan: Salis Fitria & GuysPro, Kampung Warna Jodipan. Andrea Fitrianto, ASF-ID, Rumah Contoh untuk Ciliwung. Haris El-Mahdi, Sosiolog, Universitas Brawijaya Jumat, 30 September 2016 | Pukul 18.00 | Food Factory, Jl. Bendungan Sutami 317K, Malang (Selatan Kampus 2 UMM) | info: 0857-2939-3435 (Rob)  

Symposium Formal-[In]formal

JKTWS16

“Symposium Formal-[In]formal” In high density residential area like Central Jakarta, kampungs are often considered as slums. We might have heard the idea of “formalizing informal settlements.” Some said that the fact is, through informality, kampungs may have been independently and organically growing. What do “formalizing informal settlements” means? The term “formal-informal” is being questioned in […]

BBS#2: Cities. Kampungs. Gecekondus

Poster BBS2

Brown Bag Session #2: Cities. Kampungs. Gecekondus host: Dian Tri Irawaty (RUJAK) Sunday, July 31st, 2016 // 10.30 AM – 13:00 PM // @ASF-ID Secretariate, Jl. Kotabaru 32A, Bandung // info: 0819-0826-6898 (Dette) #1 Yantri Dewi – Socio-spatial mapping as a form of advocacy. Jakarta government has several poverty alleviation programs that rely on demographic […]

Musyawarah 2016, Bandung 30-31 Juli

musyawarah2016

Rekan pegiat, 1st General Assembly (GA) merupakan musyawarah pertama ASF-ID yang digelar untuk mendiskusikan bersama setahun kerja dan kinerja ASF-ID sejak pendirian di Bandung pada 15 Mei 2015. GA juga akan merencana arah gerak bersama ke depan dalam sisa masa kepengurusan pertama (2015-2017). GA akan dihadiri oleh pengurus harian, pendiri, serta para pegiat ASF-ID. hari […]

Ada yang Baru, nih… #Buildify

Abad ke-21 adalah abad yang penuh krisis, begitu kata teman ngobrol malam mingguan gw kemarin. Karena kondisi krisis, justru konteks berarsitektur harusnya juga lebih lentur dan tanggap dengan keadaan dan kebutuhan. Ini yang membuat participatory design atau arsitektur komunitas terdengar relevan kembali. Kita harus berhenti bergantung pada kelompok 1% untuk mengelola sumber daya bagi kelompok […]

Transitional Shelter after Typhoon Haiyan

Transitional Shelter

Brown Bag Session – Architecture Sans Frontières Indonesia Saturday, April 9th, 2016, 16:00 – 18:00 PM Jl. Kota Baru No.32A Ciateul, Bandung info: Siska 0838-6701-7087 Transitional Shelter after Typhoon Haiyan – Bryan Auman*  Host: Yenny Gunawan ST. MA. (UNPAR) On November 8, 2013 Typhoon Haiyan battered Philippines central region and exposed the vulnerabilities of vernacular houses. Rehabilitation […]

Langkah Awal di Nangkasuni

Pengmas tidak membawa gambar rancangan ke kampung tujuan, melainkan hanya membawa selembar kertas kosong dan pikiran yang sudah dikosongkan; tabula rasa.